Kesehatan Perempuan dan TIK

 

Meningkatnya kesadaran untuk meningkatkan kesehatan khususnya bagi perempuan akan memberikan kontribusi bagi peningkatan kualitas hidup perempuan pada khususnya dan peningkatan kualitas hidup manusia Indonesia secara keseluruhan. Seperti diketahui salah satu komponen ukuran kualitas hidup manusia dilihat dari derajat kesehatannya. Pencapaian pembangunan manusia secara kuantitatif dapat dilihat dari angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM). Namun besaran angka IPM semata tidak dapat menjelaskan berapa besar perbedaan (gap) pencapaian kualitas hidup perempuan dan laki-laki.  Untuk itu melalui Indeks Pembangunan Gender (IPG) dapat menggambarkan perbedaan pencapaian kualitas hidup antara laki-laki dan perempuan, yang mengukur melalui gabungan indikator kesehatan, pendidikan dan daya beli.  Hasil pengurangan antara IPM dengan IPG mengindikasikan adanya kesenjangan pencapaian pembangunan antara laki-laki dan perempuan.

Secara umum pencapaian pembangunan gender di Indonesia dari waktu ke waktu  memperlihatkan perkembangan yang semakin membaik.  Pada tahun 2004 IPG secara nasional telah mencapai  63,94, kemudian naik menjadi 65,81 pada tahun 2007 dan bergerak naik lagi secara perlahan hingga menjadi 67,20 pada tahun 2010. Peningkatan IPG selama kurun waktu enam tahun sejalan dengan peningkatan beberapa indikator dalam komponen IPG. Hal ini menunjukkan kualitas hidup perempuan dalam dimensi kesehatan, pendidikan maupun  hidup layak selama kurun waktu 2004-2010 terus mengalami peningkatan seiring dengan pelaksanaan program-program pembangunan.  Namun demikian, peningkatan IPG dalam kurun waktu 2004-2010 belum memberikan gambaran yang menggembirakan, apabila dilihat dari kerangka pencapaian kesetaraan gender.  Hal ini dikarenakan pencapaian IPG selama kurun waktu tersebut masih belum mampu mengurangi jarak (gap) secara nyata dalam pencapaian kebutuhan dasar antara laki-laki dan perempuan.  Gap antara IPM dengan IPG selama kurun waktu tersebut masih terlihat tetap dan cenderung tidak berubah dari besarannya.

Adanya kesenjangan gender yang terjadi di tingkat nasional, tampaknya juga terjadi di tingkat provinsi.  Fenomena ini,  dapat ditunjukkan melalui besaran angka IPG yang lebih rendah dibanding angka IPM di semua provinsi.  Hal ini dapat memberikan gambaran bahwa persoalan kesenjangan gender masih terjadi di semua provinsi. Secara umum pembangunan di bidang kesehatan di Indonesia telah membawa dampak semakin membaiknya kualitas kesehatan penduduk. Hal ini dapat dilihat dari perkembangan Angka Harapan Hidup (AHH) yang meningkat dari waktu ke waktu.

 

Peningkatan kualitas hidup khususnya di bidang kesehatan juga tidak terlepas dari perkembangan dan pemanfaatn teknologi, informasi dan komunikasi. Sudah banyak kontribusi dari peran ilmu pengetahuan dan teknologi dalam isu kesehatan perempuan  yang sudah diaplikasikan seperti: tele homecare, e-health, sistem informasi, organ-organ buatan dsb. Namun demikian perlunya terus dilakuakan dialog dan diskusi untuk sharing pengetahuan dan pengalaman antar berbagai disiplin ilmu pengetahuan agar berbagai teknologi yang dikembangkan bisa dimanfaatkan oleh perempuan. Teknologi yang dikembangkan juga perlu memperhatikan agar mudah dipakai dan dimanfaatkan oleh  perempuan dari berbagai kalangan, isu tingkat pendidikan, persebaran wilayah baik desa kota, adat atau kebiasaan yang berkembang di masyarakat bisa menjadi salah satu pertimbangan dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bagi kesehatan perempuan. Karena seringkali, menjadi perempuan atau laki-laki bisa menimbulkan perbedaan dalam memanfaatkan dan mempergunakan teknologi. Pembagian peran, tanggung jawab, sebagai hasil konstruksi budaya di masyarakat sering kali menimbulkan perbedaan peran dan tanggung jawab yang berbeda meskipun sebenarnya peran dan tanggung jawab tersebut sesungguhnya bisa sama-sama dilakukan baik oleh laki-laki maupun perempuan. Kesenjangan gender terjadi seringkali sebagai akibat adanya perbedaan akses terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi, tingkat partisipasi yang berbeda dalam memanfaatkan ilmu dan pengetahuan dan teknologi serta kontrol yang berbeda antara laki-laki dan perempuan terhadap hasil ilmu pengetahuan dan teknologi.

 

Sebagai ilustrasi bisa digambarkan sebagai berikut: Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi(TIK) telah mengembangkan modalitas baru untuk berkomunikasi di masyarakat. TIK telah pula membawa banyak perubahan di dunia dan penetrasinya sudah sangat luas. Di Indonesia saat ini tercatat bahwa pengguna telepon selular sudah mencapai 120 juta orang. Pengguna internet berjumlah 45 juta dan 25 juta diantaranya sudah berlangganan. Perkembangan teknologi telah pula melekatkan teknologi internet pada telepon selular, sehingga akses internet juga semakin luas. Banyak keunggulan TIK ini antara lain adalah keterjangkauannya yang tidak lagi dihalangi oleh jarak dan waktu. Dengan demikian Netizen(Internet citizen) jumlahnya sudah mencapai lebih dari 30% penduduk. Namun demikian belum banyak keterlibatan perempuan dalam pemanfaatan teknologi. Meskipun sebenarnya ada keunggulan yang dimiliki oleh perempuan dalam pemberdayaan mereka di bidang TIK. Perempuan pada umumnya terorganisasi di dalam masyarakat secara efektif. Semua perempuan terhimpun di dalam berbagai organisasi mulai dari Dasa Wisma, kelompok arisan, kelompok pengajian, kelompok usaha, kelompok sosial lainnya sampai pada organisasi formal baik besar maupun kecil, baik yang berjejaring secara local sampai nasional dan internasional. Keberadaan mereka di dalam organisasi ini sangat memudahkan untuk proses pemberdayaan. Penggunaan TIK terbukti tidak sulit dan perkembangan teknologi memberikan banyak kemudahan. Pembelajaran melalui TIK sudah dibuktikan efektif, sementara sebagai sarana komunikasi sosial sudah menjadi bagian dari modalitas baru komunikasi dan gaya hidup. E-business sudah dapat dilakukan oleh pelaku usaha mikro sekalipun. TIK juga sudah menjadi alat yang dapat digunakan untuk melakuakan pelatihan dengan lebih murah, penyampaian informasi yang lebih efektif bahkan untuk pelayanan pengaduan dan pelayanan emergency sosial maupun psikologis.

 

 

Goen’s (March, 2013)

No comments yet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: